Latest News

Realita bekerja ikut orang lain

08 Mei 2010 , Posted by semarangrepair at Sabtu, Mei 08, 2010

Hari ini adalah hari dimana aku belum pernah menyaksikan amarah sekilas dari seseorang yang pernah aku kagumi, aku tertegun dan berpikir......entrepreneur seperti apakah yang sanggup mengakui letak kekeliuran dari buah idenya. Ide timbul karena ada niat untuk berpikir mengenai perkembangan-perkembangan yang akan terjadi, tapi bagaimana ketika ide itu menjadikan hubungan antar pegawai menjadi tidak harmonis, antar bawahan dan atasan juga tidak harmonis. Singkat kata, secara tidak langsung tidak mau di kritik.

Gambaran mengenai aku selama membuka usaha dan menjadi pemimpin baik didalam keluarga dan di perusahaan, sama sekali aku tidak pernah terlintas dalam pikir ketika menemukan masalah dari buah ideku, seakan aku lari dari kenyataan. Aku hanya berpikir ketika masalah itu timbul terutama dari buah ideku, aku coba mendiskusikan dan mencari jalan keluar dari masalah ini kepada SDM yang sesuai bidangnya. Sehingga suasana dan kesan yang terjadi bukanlah suatu kritikan yang ditujukan padaku, melainkan masalah yang timbul karena ide tadi adalah tanggung jawab kita semua (yang bersangkutan dengan bidangnya) dan secara demokrasi aku ingin menyempurnakan sistem yang berjalan dari ide tadi. Hasilnya, sayapun tidak merasa dikritik dan karyawan juga tidak merasa mengkritik, melainkan hanya menuangkan masalah dari perintah/ide yang aku berikan dan setelah tahu terjadi seperti itu, solusilah yang perlu dicari.

Dalam hal ini juga butuh pemikiran SDM terutama yang menuangkan masalah dari ideku tadi. Makanya aku heran, seorang pimpinan adalah cermin untuk para karyawannya. Tidak ada manusia sempurna, apa jadinya jangka panjang nanti jika tidak mau mengakui bahwa timbul masalah dari ide/perintah yang diberikan kepada SDM. Saya menangkap kesan dari pertemuan tadi adalah gengsi (bahwa pimpinan selalu benar dan tidak mau mengakui kesalahan terutama di depan para SDMnya).

Saya pun berpikir dua kali untuk meneruskan tugas sebagai manager di perusahaan orang lain, karena bagi atasan keputusannya adalah sempurna dan mutlak. Jelas saja dimanapun ini bertentangan dengan prinsip kerja dan tidak mencerminkan seorang pemimpin.

Saya menyikapi ini hanya sebuah pelajaran sekaligus cerminan untuk perlakuan saya kepada SDM saya dan di perusahaan saya. Jika management tidak berubah kearah baik, semoga saja dampak tidak mengena pada saya serta SDM saya. Bagaimana tidak, coba pikir saja, ketika saya mengutarakan kepada atasan mengenai idenya yang akan direalisasikan berdampak buruk. He......malah dipelototi dan pokoknya direalisasikan, wah repot kalau seperti ini. Karena jika ada sesuatu, jelas saya yang ditanyai bagaimana ini bisa terjadi. Padahal saya sudah mengutarakan sebelum direalisasikan.

Sudahlah......akhirnya saya memutuskan untuk resign. Tunggu saja..