Latest News

Experience

06 Mei 2010 , Posted by semarangrepair at Kamis, Mei 06, 2010

Banyak konsep atau teori yang hangat di bicarakan atau dituliskan mengenai liku-liku dalam mengelola perusahaan. Dan menghasilkan pro dan kontra, masing-masing mengunggulkan apa yang menjadi pendapatnya. Sebenarnya disini penilaiannya adalah bukan yang lebih unggul atau lebih baik konsepnya untuk diterapkan di lapangan (perusahaan) akan tetapi, mana konsep yang baik dijalankan sesuai dengan kondisi perusahaan.

Tentunya masih bingung dengan pernyataan diatas ya....he...he...wajar. Dan maklum saya juga masih belajar menulis.

Disini saya mencoba menuangkan apa yang menjadi pengalaman saya, terutama dalam mengelola anak cabang/perusahaan milik orang lain. Iya.....awal mulanya ditawari untuk mengelola anak cabang dari perusahaan yang masih dalam tahap pertumbuhan (secara finance dan juga management). Ketika itu, selepas saya menjadi operator warnet lalu melanjutkan untuk buka usaha di bidang komputer.

Pemikiran saya ketika ada tawaran tersebut adalah selain saya mengembangkan usaha yang tengah saya rintis, saya juga mendapat tambahan pengetahuan dari tawaran untuk mengelola tersebut. Dan ada kemungkinan dapat saya praktikkan dalam usaha saya.

Dengan optimis tawaran itu saya terima dan dalam kondisi yang belum tahu mengenai management yang sudah/yang akan di terapkan pada anak cabang yang saya pegang. Menurut saya, jalani dulu apa adanya, dan secara bertahap pembenahan-pembenahan pasti ada.

Setengah bulan saya menjalani sebagai manager, mulai saya merasa bahwa management baik konsep maupun real tidak tersusun dengan rapi. Saya sendiri saat itu proses pemahaman (apakah management yang akan saya terapkan sama dengan management yang sudah ada/berjalan atau management yang akan di konsep menyesuaikan dengan kondisi lapangan) pertanyaan inilah yang membuat saya tidak habis pikir, karena secara gambaran gamblang dari pihak atasan sendiri pun tidak dapat menyusun dan menggambarkan secara gamblang yang akan diterapkan management seperti apa.

Dalam kondisi seperti itu saya tetap optimis, saya berpikir ini hanya butuh waktu dan kebiasaan untuk dapat menuangkan konsep management. Prinsip kehati-hatian tetap saya pakai, karena dari anak cabang ini menyangkut banyak pihak/personal. Anak cabang ini hasil dari take over, jadi tidak murni dari satu perusahaan membuka anak cabang.

Seiring waktu berjalan sambil saya membuat konsep management dan realisasinya secara bertahap, mulailah muncul persoalan yang menurut saya ini realisasinya harus ditunda dulu sampai pada tahapannya. Entah apa pertimabangannya dari atasan, tetap harus direalisasikan. Padahal sudah mengutarakan apa akibat jika ini direalisasikan belum pada tahapannya, yah...tanggapan dari atasan tetap saja bersikukuh.

Belajar dari kesalahan sebelumnya, dan dampak yang merasakan adalah saya, akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya tidak dapat melanjutkan tugas ini. Karena menurut saya, dari atasan dengan apa yang akan terjadi, itu bukan pertimbangan melainkan ada unsur tidak sabar untuk merealisasikan.

Dan keputusan saya tetap untuk tidak melanjutkan tugas ini. Alasan yang paling mendasar adalah SAYA HIDUP TIDAK UNTUK MEMBUAT DIRI SENDIRI SUSAH, KARENA MENURUTI PERMINTAAN ORANG LAIN. Mungkin disini ada unsur ego, tapi jelas tidak, karena saya tahu persis dampak dan akibat apa yang timbul jika hal ini direalisasikan. Dampaknya banyak pihak yang akan "pusing" karena hal ini dan akibatnya, hal ini terus akan berulang dan membuat hubungan antar pekerja tidak harmonis (kejadian sudah berkali-kali berulang-ulang tapi tetap saja pihak atasan, entah tidak mau belajar dari kesalahan atau dianggap bagaimana lah persisnya saya tidak tahu).