Mantan batur jadi direktur
Diilhami dari sebuah kisah lugu dimana kehidupan seseorang jauh dari angan-angan yang tak pernah terbesit sedikit pun di benaknya untuk menjadi pelaku bisnis ditengah pangsa pasar yang semakin padat.
Kehidupan yang serba pas-pasan dilakoninya bertahun-tahun dengan menggantungkan nasibnya di sebuah pabrik. Masih untung menjadi buruh pabriknya, dengan upah sesuai minimum kota/kabupaten, tunjangan kesehatan, uang makan, lemburan dan fasilitas lainnya. Tetapi ia hanya sebagai office girl (cewek gitu..) yang kesibukan sehari-hari tanpa ada serapan ilmu yang dapat membekali dirinya jika suatu ketika diberhentikan bekerja, dan pendapatannya pun jauh dari standart.
Bisa kita bayangkan bagaimana kerasnya kehidupan sebagai office girl untuk memenuhi kebutuhan hidup, belum lagi kebutuhan rumah tangga yang tak dapat di hindari. Pekerjaan ini di lakoninya bertahun-tahun dengan harap-harap cemas jika suatu saat ia terkena imbas dari perampingan tenaga kerja, langkah apa yang harus diambilnya agar kehidupan ini tetap bergulir.
Momok ini yang kerap menghantui di setiap langkah hidupnya selama bekerja di pabrik tersebut. Dan tak pernah terbayangkan bagaimana nantinya jika kenyataan pahit itu benar-benar menghampiri di kehidupannya.
Waktu terus bergulir sesuai pasang surutnya perekonomian tak pelak dampak kiris global turut mengejutkan ratusan perusahaan. Saat itulah pabrik yang selama bertahun-tahun untuk bernaung ratusan karyawan terkena dampak krisis global, alhasil ratusan karyawan dirumahkan termasuk office girl dalam kisah ini.
Kekhawatirannya selama ini jadi nyata dan tengah dijalaninya. Seperti pada umumnya stress, bingung dan tak tau harus berbuat apa. Itulah yang dialami ratusan karyawan lainnya. Pikirannya berubah seratus delapan puluh derajat dari yang setiap bulannya mengharap penghasilan yang tak seberapa dari pabrik yang selama bertahun-tahun tempatnya bernaung, kini ia harus lebih jauh menatap kedepan agar kehidupan ini tetap berlangsung.
Lepas dari pekerjaannya sebagai office girl bukanlah awal dari terhentinya kehidupan, dengan bekal pesangon yang tak seberapa menjadi tumpuan keduanya guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Entah apa yang terpikir olehnya, memang sang pencipta berkehendak lain, terbesit dalam benaknya menggunakan sisa pesangon untuk modal usaha yang sama sekali belum tahu hiruk pikuknya dunia usaha.
Entah apa yang terlintas dalam benaknya, kini guna menyambung kelangsungan hidup usaha yang dipilihnya adalah membuat roti dengan skala home industri/industri rumahan. Berbekal keyakinan dan pengetahuan secukupnya dengan mantap ia menjalankan usaha roti hasil produksinya, dan kawan senasibnya ia rekrut untuk terjun berbagi modal menggeluti bisnisnya yang belum ada sinar cerah ini. Berawal dari rumah kerumah di sekitar tempat tinggalnya ia pasarkan roti produksinya, di titipkan ke warung-warung sekitar rumahnya, dengan ketekunan dan keyakinannya ia tetap menjalankan bisnis roti ini dibantu suaminya dan beberapa teman senasibnya.
Cerita ini diangkat dari kisah nyata, yang beberapa tempo lalu secara tidak sengaja penulis menjumpai pada suara pembaca di media massa. Tertarik dengan sekelumit kisah dari suara pembaca, penulis berpikir untuk mengulas kembali pada blog ini. Tanpa ada tambahan yang di buat-buat hanya saja artikelnya di kembangkan. Sekalian mengasah otak gituh..
Seiring berjalannya waktu, usaha yang di tekuninya berkembang dengan mencakup wilayah pemasaran yang semakin luas. Berawal dari lingkungan sekitar, meluas hingga kota domisilinya dan sekarang jangkauannya hingga dua kota.
Mengingat pada masa kerjanya di sebuah pabrik menjadi office girl, yang di perintah sana-sini kini giliran ia yang memberi perintah kepada pegawai-pegawainya. Memang nasib seseorang tak disangka dan tak diduga, akan tetapi semua itu tak lepas dari kemauan yang keras untuk berubah.
Currently have 0 Respon: